Sejarah Alat Tetas

By | May 10, 2016

Mesin Penetas Telur adalah sebuah alat yang digunakan untuk membantu proses penetasan telur. Cara kerja alat atau mesin ini adalah melakukan proses pengeraman tanpa induk dengan menggunakan sebuah lampu pijar. Mesin ini dilengkapi dengan sistem rak berputar yang berfungsi untuk meratakan proses pemanasan telur agar telur dapat menetas secara maksimal.

Mesin ini umumnya hanya bisa digunakan untuk menetaskan telur unggas seperti telur ayam, puyuh, bebek, dan mentok. Mesin dilengkapi dengan alat pengatur suhu yang disebut dengan thermostat.

Sejarah mesin penetas telur

Salah satu penetas telur buatan untuk unggas yang paling pertama tercatat dibuat manusia muncul di Mesir sekitar 3.000 tahun yang lalu. “Mesin” ini ditemukan dengan wujud sebuah rumah yang terbuat dari tumpukan batu bata yang ditempelkan dengan lumpur. Rumah ini berbentuk persegi panjang, yang disekat menjadi kamar-kamar kecil dengan oven di tiap-tiap ruangannya.Jalan akses masuk terletak di bagian tengah rumah, berbentuk memanjang yang membagi dua ruangan di sebelah kiri dan kanan. Pada masa itu para pegawai benar-benar hidup dan tidur di bangunan ini.

Orang-orang mesir kuno ini juga mempunyai cara tertentu untuk memilih telur mana yang subur dan baik untuk ditetaskan. Ruang penetasan di gubuk lumpur juga memiliki rak untuk membakar jerami, kotoran, dan arang yang dibakar untuk menjaga agar suhu tetap hangat. Ventilasi yang terletak di ruangan berfungsi mendinginkan telur dan mengeluarkan asap.

Orang mesir kuno membalik posisi telur sehari sekali; bahkan pada masa itu mereka telah mengetahui bahwa embrio akan menempel pada bagian dalam telur jika tidak diubah posisinya. Selain itu mereka juga harus mengontrol kelembaban dan di akhir periode pengeraman, kelembapan harus dinaikkan dengan menempatkan goni basah pada telur-telur tersebut.

Bahkan hingga hari ini di Fayum, banyak keluarga Mesir yang meneruskan tradisi inkubasi kuno ini. Cara ini tetap dilakukan di masa sekarang karena tingkat keberhasilan penetasan cukup tinggi yaitu sekitar 90%. Dari 40.000 telur mereka berhasil menjual lebih dari 32.000 anak ayam dalam seminggu sepanjang tahun. Kota Fayum masih dikenal di dunia saat ini dengan Organisasi Breed Fayoumi-nya.

Ayam Cina
Sistem penetasan yang sangat mirip dengan yang dipakai orang mesir kuno dilakukan bangsa cina pada sekitar 246 SM, dengan oven batu bata beserta seluruh bangunannya yang dibuat dengan tujuan untuk menetaskan telur ayam. Namun sedikit berbeda dengan bangsa Mesir, orang Cina mempelajari bahwa setelah embrio ayam tumbuh berkembang mereka akan mulai menghasilkan panas. Oleh sebab itu mereka meletakkan telur dengan embrio yang lebih tua untuk menghangatkan telur dengan embrio yang lebih muda dan belum berkembang.

Kemajuan Eropa
Pada pertengahan 1600-an bangsa Eropa mulai menyadari bahwa teknik bangsa Mesir telah sukses dan membuat para ahli peternakan disana mulai membangun system penetasan serupa; hanya saja mereka menemukan kenyataan bahwa musim dingin Eropa yang keras membuat inkubasi ala bangsa Mesir tidak praktis bahkan mustahil untuk diterapkan. Oleh karenanya bangsa Eropa mencari solusi dengan membuat mesin yang lebih canggih untuk mengatasi masalah ini. Seorang ilmuwan Perancis dengan nama De Beaumur menerbitkan buku dengan judul yang cukup fenomenal pada masa itu “Seni Penetasan dan Memelihara Unggas Lokal dari Semua jenis, Setiap saat Sepanjang tahun …”. De Baumur menggunakan panas dari fermentasi dan termometer sederhana untuk menetaskan telurnya.

Kecerdikan Bangsa Amerika
Pada pertengahan abad ke-20, perkembangan dalam bidang elektronik, ditemukannya termostat dan berbagai teknologi lain ditambah dengan meningkatnya unggas telah menggiring manusia pada peralatan mesin penetas telur modern; yaitu ruang penetasan dengan suhu terkontrol dan kelembaban sempurna untuk memastikan penetasan berjalan optimal, serta rak raksasa yang diputar dengan system komputer setiap satu jam sekali.

Namun, bahkan dengan komputer dan peralatan terbaik di planet ini sekalipun, proses pengeraman telur mungkin masih belum mampu mencapai kualitas yang sama baiknya seperti yang dilakukan oleh induk ayam. Mungkin di masa depan kita akan menemukan jawabannya.